KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat sinergi dengan berbagai elemen masyarakat demi menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Kolaborasi bersama organisasi masyarakat (ormas), bregada, serta paguyuban dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan suasana kota yang aman, damai, dan kondusif.
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat menghadiri aksi damai yang digelar Forum Jogja Damai di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (29/4/2026).
Menurut Hasto, kondisi Kota Yogyakarta yang relatif aman hingga saat ini tidak terlepas dari peran aktif masyarakat. Ia menegaskan bahwa ormas dan kelompok sosial lainnya merupakan mitra strategis pemerintah dalam menjaga harmoni sosial sekaligus meredam potensi konflik di tengah dinamika masyarakat.
“Berbagai dinamika yang muncul di masyarakat bisa dikelola dengan baik berkat komunikasi, koordinasi, dan semangat gotong royong. Peran ormas, bregada, dan paguyuban menjadi kekuatan sosial yang harus terus dijaga,” ujar Hasto.
Ia juga menekankan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta akan terus membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan seluruh elemen masyarakat. Sinergi tersebut tidak hanya difokuskan pada aspek keamanan, tetapi juga dalam memperkuat nilai toleransi, kebersamaan, serta keharmonisan antarwarga.
Aksi Damai Sambut May Day, Jogja Tunjukkan Wajah Sejuk
Aksi damai yang diinisiasi Forum Jogja Damai ini mengangkat tema “Jaga Jogja dengan Cinta” dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh setiap 1 Mei.
Koordinator lapangan Forum Jogja Damai, Hasanudin, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat menjaga Yogyakarta tetap aman dan kondusif, khususnya menjelang momentum May Day yang di sejumlah daerah sering diwarnai aksi unjuk rasa.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Jogja tetap damai. Cara yang kami pilih adalah dengan pendekatan penuh cinta, kebersamaan, dan persatuan,” ungkapnya.
Kirab Budaya Meriah, Simbol Persatuan dan Kebhinekaan
Rangkaian kegiatan dimulai dengan kirab budaya dari kawasan Abu Bakar Ali. Peserta kemudian berjalan menyusuri Jalan Malioboro hingga berakhir di simpang Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Sepanjang perjalanan, peserta membawa berbagai atribut bernuansa budaya yang mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman. Suasana meriah namun tetap tertib menjadi gambaran kuat harmonisasi sosial di Kota Gudeg tersebut.
Hasanudin menambahkan, pemilihan kawasan Malioboro bukan tanpa alasan. Selain dikenal sebagai ikon pariwisata, Malioboro juga menjadi representasi wajah Yogyakarta sebagai kota budaya yang menjunjung tinggi nilai toleransi.
“Malioboro adalah simbol Jogja. Kita semua punya tanggung jawab menjaga kawasan ini agar tetap aman, nyaman, dan ramah bagi siapa pun, baik wisatawan maupun masyarakat lokal,” jelasnya.
Doa Lintas Agama dan Deklarasi Damai
Kegiatan ditutup dengan doa bersama lintas agama yang diikuti seluruh peserta. Momen ini menjadi simbol kuat persatuan di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Yogyakarta.
Selanjutnya, dilakukan deklarasi bersama sebagai komitmen kolektif untuk menjaga kondusivitas dan kedamaian di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas sosial di tengah tantangan zaman. Dengan komunikasi yang baik dan semangat gotong royong, Yogyakarta terus menunjukkan diri sebagai kota yang aman, toleran, dan penuh harmoni.
Langkah ini sekaligus menjadi contoh bagaimana sinergi lintas elemen mampu menciptakan lingkungan yang kondusif, bahkan di tengah momentum yang rawan gesekan seperti peringatan May Day.
Dengan semangat “Jaga Jogja dengan Cinta”, harapan akan Yogyakarta yang damai dan sejuk pun terus digaungkan oleh seluruh lapisan masyarakat. (*)























