KABARSEMBADA.COM, MAGELANG – Perayaan Hari Raya Waisak 2026 di kawasan Candi Borobudur dipastikan kembali menjadi magnet wisata spiritual dan budaya yang dinanti masyarakat. Tahun ini, pengunjung dapat menikmati momen sakral pelepasan lampion Waisak dengan pengalaman yang lebih berkesan.
Tradisi pelepasan lampion menjadi salah satu agenda paling ikonik dalam rangkaian Waisak di Borobudur. Ribuan cahaya yang diterbangkan ke langit malam bukan hanya menghadirkan panorama menakjubkan, tetapi juga sarat makna spiritual tentang harapan, refleksi diri, dan perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.
Direktur Komersial InJourney Destination Management, Richard Gistang Panutur mengatakan bahwa pelepasan lampion bukan sekadar atraksi visual, melainkan bagian dari perjalanan batin yang mendalam.
“Tradisi pelepasan lampion dalam perayaan Waisak tidak sekadar indah secara visual, tetapi juga mencerminkan perjalanan batin untuk berefleksi, menenangkan diri, dan menguatkan harapan. Cahaya lampion yang terbang ke langit membawa doa dan harapan, menghadirkan suasana yang penuh makna di tengah kemegahan warisan budaya dunia,” ujar Richard di Yogyakarta, Sabtu (9/5/2026).
Pihak penyelenggara membuka beberapa kategori paket agar pengunjung bisa memilih pengalaman sesuai kebutuhan, mulai dari paket pelepasan lampion hingga paket spiritual sunrise pradaksina.
Paket reguler pelepasan lampion dibanderol Rp950 ribu untuk wisatawan nusantara dan Rp1,2 juta bagi wisatawan mancanegara.
Dalam paket ini, pengunjung akan memperoleh berbagai fasilitas seperti:
- Tiket mengikuti pelepasan lampion
- Tiket masuk kawasan pada 31 Mei 2026
- Kaos merchandise Waisak
- Tote bag eksklusif
- Wishing card
- Pulpen
- Jas hujan
- Mini flashlight
- Shuttle kendaraan listrik pulang-pergi
Penjualan tiket telah dibuka sejak 18 April 2026 dan akan berlangsung hingga 31 Mei 2026.
Paket Sunrise Pradaksina Jadi Favorit Baru
Bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman spiritual lebih mendalam, tersedia paket lampion terintegrasi dengan kegiatan sunrise pradaksina.
Melalui paket ini, peserta diajak mengikuti prosesi pradaksina atau walking meditation mengelilingi Candi Borobudur pada pagi hari setelah pelepasan lampion berlangsung.
Kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman mindfulness dengan berjalan perlahan sambil memusatkan perhatian pada gerakan tubuh, napas, serta suasana hening di pelataran situs warisan dunia UNESCO tersebut.
Harga paket sunrise pradaksina dipatok Rp1,35 juta untuk wisatawan nusantara dan Rp1,75 juta bagi wisatawan mancanegara.
Fasilitas yang diperoleh meliputi:
- Tiket lampion Waisak
- Tiket masuk kawasan pada 31 Mei dan 1 Juni 2026
- Akses sunrise pradaksina
- Layanan upanat
- Transportasi EV wara-wiri di dalam kawasan
Penjualan paket ini dimulai sejak 25 April hingga 31 Mei 2026.
Ada Tiket Tribun Khusus untuk Menonton Lampion
Tak hanya peserta pelepasan lampion, masyarakat umum juga bisa menikmati momen sakral tersebut dari tribun khusus yang berada di sisi selatan Marga Utama Borobudur.
Harga tiket tribun dibanderol Rp250 ribu untuk wisatawan nusantara dan Rp350 ribu bagi wisatawan mancanegara.
Dengan tiket ini, pengunjung mendapatkan:
- Akses masuk kawasan pada 31 Mei 2026
- Tempat duduk khusus di tribun saat pelepasan lampion berlangsung
Penjualan tiket tribun dimulai sejak 2 Mei hingga 31 Mei 2026.
Tiket Ekonomis Menonton Lampion di Kawasan Borobudur
Bagi wisatawan yang ingin menikmati atmosfer Waisak dengan harga lebih terjangkau, tersedia pula tiket masuk kawasan Taman Wisata Borobudur untuk menyaksikan suasana pelepasan lampion.
Harga tiket:
- Rp65 ribu untuk wisatawan nusantara
- Rp150 ribu untuk wisatawan mancanegara
Penjualan tiket kategori ini dimulai pada 9 Mei 2026 hingga 31 Mei 2026.
Waisak Borobudur Jadi Simbol Toleransi dan Harmoni
Richard menegaskan bahwa perayaan Waisak di Borobudur bukan hanya agenda keagamaan tahunan, tetapi juga ruang perjumpaan antara nilai spiritual, budaya, dan kemanusiaan.
Menurutnya, momentum pelepasan lampion mengandung pesan mendalam tentang melepaskan beban kehidupan sekaligus menumbuhkan harapan baru bagi masa depan.
“Pelepasan lampion bukan hanya sebuah tradisi, melainkan momentum refleksi yang mengajak kita semua untuk melepaskan hal-hal yang membebani, sekaligus menumbuhkan harapan baru,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh pengunjung untuk mematuhi aturan selama perayaan berlangsung demi menjaga kekhidmatan dan kelestarian kawasan Borobudur sebagai warisan budaya dunia.
Melalui pengelolaan acara yang tertata, perayaan Waisak di Borobudur diharapkan terus menjadi pengalaman spiritual yang membekas bagi wisatawan, sekaligus memperkuat nilai toleransi dan harmoni antara manusia, budaya, dan alam. (*)























