Recent News

Jogja Perangi TB dan Asma Anak, Hasto Wardoyo Libatkan 400 Mahasiswa Kedokteran hingga Teknologi Kesehatan

KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat langkah penanganan tuberkulosis (TB) dan asma anak melalui berbagai strategi inovatif. Mulai dari pemanfaatan teknologi kesehatan modern, perubahan perilaku masyarakat, hingga kolaborasi lintas sektor bersama perguruan tinggi dan rumah sakit dilakukan demi menekan angka penyakit pernapasan pada anak.

Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Hasto Wardoyo saat menghadiri peringatan Hari Asma dan TB Anak Sedunia di Grha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (9/5/2026).

Acara ini diinisiasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi bersama Klub Asma Anak Yogyakarta dan Promosi Kesehatan RSUP Dr. Sardjito.

Kegiatan berlangsung meriah dan edukatif dengan menghadirkan layanan skrining TB gratis, lomba mewarnai anak, pentas seni dari Klub Asma Anak Yogyakarta, hingga sesi edukasi kesehatan bertajuk “Batuk Pada Anak: Asma, Pneumonia atau Tuberkulosis?” bersama sejumlah dokter spesialis anak.

Dalam sambutannya, Hasto Wardoyo menilai Kota Yogyakarta perlu memperkuat pendekatan kesehatan berbasis teknologi medis terkini untuk menangani TB dan asma secara lebih efektif.

“Penanganan TB dan asma tidak cukup hanya dengan pengobatan. Kita juga harus memperkuat perubahan perilaku masyarakat dan memanfaatkan medical technology terbaru,” ujarnya.

Lingkungan Bersih Jadi Kunci Tekan Kasus TB dan Asma

Menurut Hasto, faktor lingkungan masih menjadi tantangan utama dalam penanganan penyakit pernapasan, terutama pada anak-anak. Rumah yang lembap, sanitasi buruk, hingga rendahnya kepatuhan masyarakat melakukan skrining dan pengobatan dinilai memperbesar risiko penularan TB.

Ia menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap sehat dan bersih.

“Kesadaran masyarakat sangat penting, mulai dari menjaga rumah tidak lembap, lingkungan tetap bersih, disiplin skrining, sampai rutin menjalani pengobatan,” katanya.

Pemkot Yogyakarta juga menilai pengendalian TB memiliki kaitan erat dengan penurunan angka stunting. Hasto menyebut kondisi kesehatan lingkungan sangat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Ia mengungkapkan prevalensi stunting di Kota Yogyakarta mengalami penurunan cukup signifikan.

“Awal 2024 angka stunting masih sekitar 14 persen, sekarang sudah turun menjadi 9,48 persen. Mudah-mudahan bisa turun lebih rendah lagi,” ungkapnya.

400 Mahasiswa Kedokteran UGM Diterjunkan Dampingi Keluarga Berisiko

Salah satu langkah inovatif yang dilakukan Pemkot Yogyakarta adalah menggandeng Fakultas Kedokteran UGM untuk memperkuat sistem surveilans kesehatan masyarakat.

Sebanyak 400 mahasiswa kedokteran diterjunkan untuk mendampingi keluarga berisiko tinggi selama masa pendidikan mereka. Program ini diharapkan mampu meningkatkan deteksi dini penyakit seperti TB dan pneumonia.

“Empat ratus mahasiswa kedokteran itu selama empat tahun akan mengawal satu keluarga. Ini menjadi bagian surveillance sekaligus penguatan deteksi dini,” jelas Hasto.

Tak hanya itu, Pemkot juga menjalankan program One Village One University serta pendampingan satu kampung oleh tenaga kesehatan sebagai strategi penguatan kesehatan berbasis komunitas.

Program tersebut dirancang agar masyarakat mendapatkan edukasi kesehatan secara langsung dan berkelanjutan hingga tingkat kampung.

Pemkot Jogja Siapkan Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni

Dalam upaya pencegahan penyakit, Pemkot Yogyakarta juga tengah mengupayakan dukungan internasional untuk penanganan kesehatan masyarakat, termasuk perbaikan rumah tidak layak huni di kawasan bantaran sungai.

Wilayah dengan kondisi hunian padat dan lembap dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyebaran penyakit pernapasan seperti TB.

“Kami terus menjalankan kegiatan-kegiatan preventif agar masyarakat lebih sehat,” kata Hasto.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, Tunjung Wibowo mengatakan peringatan Hari Asma dan TB Anak Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan edukasi masyarakat.

Menurutnya, masih banyak stigma yang berkembang terkait penyakit TB dan asma pada anak. Padahal kedua penyakit tersebut bisa dicegah, dikendalikan, bahkan disembuhkan jika ditangani dengan tepat.

“Beberapa penyakit sebenarnya bisa dicegah dan diobati dengan baik. Edukasi penting supaya tidak muncul stigma di masyarakat,” ujarnya.

Tunjung menjelaskan, asma pada anak dapat mengganggu kualitas hidup bahkan berisiko fatal jika serangan terjadi dalam kondisi berat. Meski demikian, anak penderita asma tetap bisa tumbuh normal dan meraih prestasi.

“Anak-anak dengan asma tetap bisa berprestasi dan menjalani aktivitas seperti anak lainnya,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kualitas lingkungan dan segera memanfaatkan layanan skrining TB agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.

“Dengan screening TB, penyakit bisa diketahui lebih cepat, diobati segera, dan tidak menular ke lingkungan sekitar,” ucapnya.

Tunjung berharap kegiatan edukasi dan skrining kesehatan anak seperti ini dapat terus digelar setiap tahun agar kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan pernapasan semakin meningkat. (*)

Tags :

Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Recent News

Portal informasi yang didedikasikan oleh sejumlah jurnalis, pegiat teknologi informasi, akademisi, dan pelaku bisnis. Sebagai portal informasi berita, KABARSEMBADA.COM mengusung tagline Good News is The Best News (Berita Bagus Kabar Terbaik).

© 2025. All Rights Reserved by Kabar Sembada