Recent News

Jogja Cetak Lompatan Besar! Kelola 300 Ton Sampah per Hari Tanpa TPA, Fokus Selamatkan Air

KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Kota Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam membangun lingkungan perkotaan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata, Pemerintah Kota Yogyakarta berhasil mencatat capaian penting dalam pengelolaan lingkungan, terutama pada sektor persampahan.

Capaian tersebut terungkap dalam kegiatan Ekspos Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Yogyakarta yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta di Ruang Bima Balai Kota Yogyakarta, Kamis (16/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penyusunan SLHD Tahun 2026 sekaligus sarana evaluasi kondisi lingkungan hidup di Kota Pelajar.

Penyusunan SLHD sendiri merupakan amanat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2026 tentang Sistem Informasi Status Lingkungan Hidup. Melalui dokumen tersebut, Kota Yogyakarta menetapkan tiga isu strategis lingkungan yang menjadi prioritas penanganan, yakni pengelolaan sampah, kualitas air, dan ruang terbuka hijau (RTH).

Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, menegaskan bahwa lingkungan hidup memiliki peran vital dalam menentukan kualitas kehidupan masyarakat. Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan.

“Lingkungan hidup adalah pondasi kehidupan masyarakat. Kota yang bersih akan menciptakan masyarakat yang sehat, sungai yang terjaga akan menopang kehidupan, dan ruang hijau yang memadai akan menjadikan kota lebih nyaman sekaligus tangguh menghadapi dampak perubahan iklim,” ujarnya.

Ia menambahkan, SLHD bukan sekadar dokumen pelengkap administrasi, melainkan instrumen penting yang mampu menggambarkan kondisi lingkungan secara nyata dan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.

“Melalui dokumen ini kita dapat melihat capaian yang sudah diraih, mengidentifikasi tantangan yang masih ada, dan menyusun langkah perbaikan yang lebih tepat sasaran,” katanya.

Produksi Sampah 300 Ton per Hari Berhasil Dikelola Mandiri

Salah satu capaian terbesar yang dipaparkan dalam ekspos tersebut adalah keberhasilan Pemerintah Kota Yogyakarta mengelola seluruh timbulan sampah secara mandiri.

Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufik, menjelaskan bahwa produksi sampah di Kota Yogyakarta rata-rata mencapai 300 ton setiap hari. Bahkan pada musim liburan, angka tersebut dapat meningkat hingga sekitar 400 ton per hari.

Meski demikian, seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat kini dapat ditangani tanpa harus dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Selama empat bulan terakhir, Kota Yogyakarta sudah tidak lagi mengirim sampah ke TPA. Seluruh sampah berhasil kami kelola sendiri melalui sistem pengelolaan yang diperkuat dari hulu hingga hilir,” ungkap Rajwan.

Keberhasilan itu tidak lepas dari berbagai inovasi pengurangan sampah berbasis masyarakat yang terus dikembangkan. Program Ember Organik, Biopori Jumbo, hingga Gerakan Keluarga Mas Jos (Masyarakat Jogja Olah Sampah) menjadi motor utama dalam mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.

Menurut Rajwan, berbagai program tersebut mampu menekan volume sampah hingga sekitar 50 ton per hari sebelum masuk ke fasilitas pengolahan akhir.

Gerakan Mas Jos Kian Mengakar di Tengah Masyarakat

DLH menilai keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat.

Melalui Gerakan Keluarga Mas Jos, warga diajak membangun budaya baru dengan memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah. Hasilnya, partisipasi masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun.

Hingga pertengahan 2026, tercatat sebanyak 40.742 keluarga telah bergabung dalam program tersebut. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan akhir 2025 yang berada di kisaran 35 ribu keluarga.

“Kami terus mendorong pendekatan edukatif agar pengelolaan sampah menjadi budaya sehari-hari. Semakin banyak masyarakat yang mengolah sampah dari rumah, maka semakin ringan beban pengolahan di tingkat kota,” jelasnya.

Kualitas Air Sungai Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Di balik keberhasilan sektor persampahan, persoalan kualitas air masih menjadi tantangan yang harus segera dituntaskan.

DLH secara rutin melakukan pemantauan kualitas air sungai, embung, mata air, serta sumur warga. Hasil pemantauan menunjukkan kualitas air Kota Yogyakarta masih berada pada kategori sedang dan membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Beberapa titik sungai masih ditemukan pencemaran yang berasal dari limbah domestik rumah tangga yang dibuang langsung ke aliran sungai.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemkot Yogyakarta terus memperkuat edukasi kepada masyarakat serta memperluas pemanfaatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal.

“Kami berupaya mendorong masyarakat agar limbah rumah tangga tidak langsung masuk ke sungai, melainkan dialihkan ke sistem pengolahan limbah yang lebih aman,” kata Rajwan.

Kualitas Udara Terjaga, Ruang Hijau Masih Kurang

Sementara itu, hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi Kota Yogyakarta masih tergolong baik. Meski terjadi peningkatan aktivitas kendaraan pada musim liburan, kualitas udara secara umum masih berada dalam batas aman.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot terus memperkuat vegetasi perkotaan dan mempertahankan keberadaan ruang terbuka hijau yang ada.

Namun demikian, ketersediaan ruang terbuka hijau masih menjadi tantangan tersendiri. Saat ini luas RTH Kota Yogyakarta baru mencapai sekitar 23 persen dari total wilayah kota, masih jauh dari target ideal sebesar 30 persen.

Untuk mengejar target tersebut, pemerintah terus mendorong penambahan area hijau melalui berbagai kebijakan pembangunan, termasuk mewajibkan unsur penghijauan dalam setiap pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

“Ruang terbuka hijau memiliki fungsi penting bagi kualitas lingkungan kota. Selain menjaga keseimbangan ekosistem, keberadaannya juga berperan dalam meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan masyarakat,” ujar Rajwan.

Melalui penyusunan SLHD 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap seluruh elemen masyarakat semakin terlibat dalam menjaga lingkungan. Sebab, keberhasilan menciptakan kota yang sehat, bersih, dan berkelanjutan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran kolektif seluruh warga.

Dengan berbagai capaian dan tantangan yang ada, Yogyakarta kini tengah menapaki transformasi menuju kota yang lebih hijau, lebih bersih, dan lebih siap menghadapi tantangan lingkungan di masa depan. (*)

Tags :

Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Recent News

Portal informasi yang didedikasikan oleh sejumlah jurnalis, pegiat teknologi informasi, akademisi, dan pelaku bisnis. Sebagai portal informasi berita, KABARSEMBADA.COM mengusung tagline Good News is The Best News (Berita Bagus Kabar Terbaik).

© 2025. All Rights Reserved by Kabar Sembada