Recent News

Pasar Beringharjo Tak Pernah Sepi: Dari Jejak Sejarah hingga Omzet Triliunan, Ini Rahasia Ramainya Ikon Jogja

KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Di tengah gempuran pusat perbelanjaan modern, Pasar Beringharjo tetap berdiri kokoh sebagai denyut nadi ekonomi sekaligus destinasi wisata legendaris di Kota Gudeg. Berlokasi di kawasan strategis Jalan Margo Mulyo, pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, tetapi juga ruang hidup yang menyatukan sejarah, budaya, dan aktivitas ekonomi masyarakat Yogyakarta selama ratusan tahun.

Sejarah Pasar Beringharjo berakar sejak tahun 1758, tak lama setelah berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dahulu, kawasan ini merupakan hutan beringin lebat yang kemudian dimanfaatkan warga sebagai lokasi transaksi sederhana yang dikenal sebagai “Pasar Gedhe”.

Nama “Beringharjo” sendiri baru diresmikan pada 24 Maret 1929 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Filosofinya sarat makna: “Bering” melambangkan pohon beringin, sementara “Harjo” berarti kesejahteraan—sebuah harapan agar pasar ini terus membawa rezeki bagi masyarakat.

Penataan pasar modern dimulai sejak 1925 melalui kerja sama dengan perusahaan Belanda Nederlansch Indisch Beton Maatschappij. Hasilnya adalah bangunan dengan perpaduan arsitektur Jawa dan kolonial yang masih terjaga hingga kini, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Omzet Fantastis, Bukti Pasar Tradisional Masih Kuat

Di tengah isu lesunya pasar tradisional, fakta di lapangan justru berkata sebaliknya. Dalam kunjungannya pada Maret 2026, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Pasar Beringharjo masih sangat aktif.

“Ramai sekali. Perputaran ekonominya bisa mencapai Rp2 triliun per tahun. Ini menunjukkan pasar tradisional tidak mati, justru tetap hidup,” ujarnya.

Data dari Dinas Perdagangan DIY mencatat lebih dari 2.000 pedagang aktif beroperasi di pasar ini. Nilai transaksi harian pun mencapai Rp5–6 miliar, menjadikannya salah satu penggerak utama sektor UMKM yang berkontribusi besar terhadap perekonomian daerah.

Suasana di Pasar Beringharjo hampir tak pernah sepi. Pada hari biasa, sekitar 1.500 pengunjung datang setiap hari. Namun saat musim liburan, jumlah tersebut melonjak drastis.

Pada momen Lebaran 2026 misalnya, jumlah pengunjung sempat menembus 17.248 orang dalam sehari. Hingga H+4 Lebaran, angka kunjungan tetap stabil di kisaran 15.000–17.000 orang per hari. Lorong-lorong pasar pun dipenuhi aktivitas tawar-menawar yang khas dan penuh warna.

Surga Belanja: Dari Batik hingga Kuliner Legendaris

Daya tarik utama Pasar Beringharjo terletak pada kelengkapan produknya. Di sini, pengunjung bisa menemukan:

  • Batik dan tekstil: Mulai dari batik tulis hingga cap dengan motif khas Yogyakarta
  • Kuliner tradisional: Aneka jajanan seperti wingko dan bakpia yang dibuat secara autentik
  • Kerajinan dan oleh-oleh: Tas, aksesoris, sepatu, hingga cinderamata unik

Selain berbelanja, pengunjung juga bisa menikmati suasana bangunan bersejarah, beristirahat di kantin, hingga beribadah di fasilitas mushola yang tersedia.

Testimoni Pengunjung: Murah, Lengkap, dan Berkesan

Anisa (29), wisatawan asal Jakarta, mengaku selalu menyempatkan diri datang ke pasar ini setiap berkunjung ke Jogja.

“Belanja di sini itu seru. Pilihannya banyak, kualitasnya bagus, dan harganya lebih ramah dibanding mall. Bisa sekalian ngerasain suasana tradisional yang khas,” ujar Anisa, Minggu (3/5/2026).

Hal senada disampaikan Rudi, wisatawan asal Surabaya. Ia menyebut Pasar Beringharjo sebagai destinasi wajib.

“Kalau ke Jogja belum ke sini, rasanya belum lengkap. Saya suka cari batik di sini karena modelnya unik dan bisa ditawar,” kata Rudi.

Suara Pedagang: Bertahan dan Terus Berinovasi

Di balik ramainya pasar, ada semangat para pedagang yang terus menjaga eksistensi.

Siti (45), pedagang batik yang sudah berjualan lebih dari 20 tahun, mengaku pasar ini masih menjadi sumber penghidupan utama.

“Alhamdulillah masih ramai. Apalagi kalau musim liburan, dagangan bisa laris. Kami juga mulai jualan online supaya bisa menjangkau lebih banyak pembeli,” tuturnya.

Sementara itu, Budi (38), penjual makanan tradisional, mengatakan inovasi menjadi kunci bertahan.

“Kami tetap pakai resep tradisional, tapi kemasannya dibuat lebih menarik supaya disukai wisatawan muda,” ujarnya.

Ikon Jogja yang Tak Lekang oleh Waktu

Keberadaan Pasar Beringharjo menjadi bukti bahwa pasar tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Perpaduan antara nilai sejarah, kekuatan ekonomi, dan daya tarik wisata menjadikannya salah satu ikon penting Yogyakarta.

Dengan dukungan pemerintah serta inovasi para pedagang, Pasar Beringharjo diproyeksikan akan terus berkembang dan menjadi wajah ekonomi kerakyatan yang membanggakan. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Yogyakarta, mampir ke Pasar Beringharjo bukan sekadar belanja—melainkan pengalaman menyelami kehidupan, budaya, dan sejarah dalam satu tempat yang hidup dan penuh cerita. (*)

Pewarta: Yahya Haqul Mubin

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Recent News

Portal informasi yang didedikasikan oleh sejumlah jurnalis, pegiat teknologi informasi, akademisi, dan pelaku bisnis. Sebagai portal informasi berita, KABARSEMBADA.COM mengusung tagline Good News is The Best News (Berita Bagus Kabar Terbaik).

© 2025. All Rights Reserved by Kabar Sembada