Recent News

El Nino Mengintai, Sleman Siaga Hadapi Kekeringan hingga Akhir 2026

KABARSEMBADA.COM, SLEMAN – Kabupaten Sleman bersiap menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering pada musim kemarau 2026. Pemerintah Kabupaten Sleman memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus menyiapkan distribusi air bersih untuk wilayah yang mulai mengalami krisis air.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, A.P., M.Si., mengatakan kesiapsiagaan diperlukan karena kondisi iklim tahun ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan.

Dalam jumpa pers, Selasa (11/8/2026), Bambang menyampaikan BMKG D.I. Yogyakarta melalui Buletin Informasi Iklim Nomor 7 Juli 2026 memprediksi curah hujan di Sleman berada pada kisaran 0–20 milimeter per bulan, atau di bawah kondisi normal.

“BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian pertama Agustus 2026 dengan kategori Siaga untuk Kabupaten Sleman. Ini menjadi perhatian kami dalam melakukan langkah kesiapsiagaan dan penanganan di lapangan,” ujar Bambang.

BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung sejak Juli hingga dasarian pertama November 2026. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus. Bahkan, periode kemarau yang lebih panjang dan kering akibat pengaruh El Nino kuat berpeluang berlangsung hingga Desember 2026.

Distribusi Air Disiapkan untuk Warga

Mengantisipasi meningkatnya kebutuhan air, BPBD Sleman menyiapkan armada truk tangki dan sarana pendukung untuk melakukan dropping air bersih ke kawasan yang mengalami krisis air.

Penanganan tersebut dilakukan bersama berbagai instansi dan organisasi. Pemkab Sleman juga melakukan pemetaan kawasan rawan berdasarkan kajian risiko bencana kekeringan serta data wilayah yang pernah terdampak pada 2022–2025.

Sejumlah wilayah telah mendapatkan distribusi air bersih. Di Girikerto, Kapanewon Turi, distribusi dijadwalkan sebanyak dua tangki per hari untuk memenuhi kebutuhan sekitar 175 kepala keluarga.

Pada 4–6 Agustus 2026, distribusi air ke Girikerto mencapai 20.000 liter. Sedangkan di Sumberarum, Moyudan, tercatat penyaluran 5.000 liter air pada 6 Agustus untuk sekitar 120 kepala keluarga.

“Penanganan sudah dilakukan di wilayah yang membutuhkan. Kami terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan melakukan koordinasi apabila ada kebutuhan tambahan distribusi air,” jelas Bambang.

Selain dropping air, BBWSSO memasang 50 bronjong untuk melindungi sumber air dari ancaman longsor. Hidran umum juga disiapkan melalui skema pinjam pakai untuk mendukung kebutuhan wilayah terdampak.

Pemkab Sleman bahkan merencanakan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Magelang untuk membahas kemungkinan pemanfaatan Sungai Krasak.

Pertanian Diminta Menyesuaikan Masa Tanam

Ancaman kekeringan tidak hanya menyangkut kebutuhan air rumah tangga, tetapi juga sektor pertanian. Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman menyiapkan pompa sumur untuk kelompok tani serta memberikan sosialisasi terkait pemanfaatan bendung, embung, dan mata air.

Petani juga diimbau menyesuaikan masa tanam, khususnya untuk tanaman pangan. Penyuluhan mengenai komoditas yang membutuhkan lebih sedikit air menjadi salah satu bagian dari upaya mitigasi nonstruktural.

Di sektor infrastruktur air, Pemkab Sleman mendorong pembangunan sumur bor, pemanfaatan hidran umum, serta pengembangan jaringan air melalui PAMSIMAS dan program yang difasilitasi BBWSSO.

Koordinasi dengan BBWSSO juga dilakukan terkait 57 titik sumur dalam yang pompanya berasal dari bantuan BBWSSO agar dapat kembali difungsikan pada periode 2027. BBWSSO turut menyiapkan 40 pompa portable untuk mendukung kebutuhan irigasi.

Pemkab Sleman telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan sejak 1 Juli hingga 31 Agustus 2026. Untuk mendukung operasional dropping air, pemerintah daerah mengajukan tambahan anggaran melalui ABT Rp12,5 juta dan revisi anggaran murni Rp12,5 juta, sehingga totalnya mencapai Rp25 juta.

Dukungan juga datang dari Dinas Sosial, PMI Kabupaten Sleman, BAZNAS, PDAM Tirtamarta, Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, serta instansi terkait lainnya.

PDAM Tirtamarta melakukan perbaikan sistem pengolahan dan pengurasan pada unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan siap mendukung dropping air apabila diperlukan. PMI Sleman juga menyatakan kesiapan dukungan anggaran maupun sumber daya manusia.

Bambang menegaskan, keberhasilan menghadapi kekeringan membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat secara bersamaan.

“Kami mengajak masyarakat untuk menghemat air selama musim kemarau. Jangan membakar sampah sembarangan dan jangan membuang puntung rokok karena dapat memicu kebakaran,” tegasnya.

Menurutnya, kesiapsiagaan bukan hanya soal menyediakan air ketika terjadi krisis, tetapi juga menjaga sumber air, mengantisipasi dampak terhadap pertanian, memperbarui data wilayah rawan, serta memastikan koordinasi antarlembaga berjalan efektif.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkab Sleman berupaya menjaga ketersediaan air baku, mendukung kebutuhan irigasi dan pertanian, serta meminimalkan dampak kekeringan yang berpotensi berlangsung hingga penghujung 2026. (*)

Tags :

Arya Apolonio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Recent News

Portal informasi yang didedikasikan oleh sejumlah jurnalis, pegiat teknologi informasi, akademisi, dan pelaku bisnis. Sebagai portal informasi berita, KABARSEMBADA.COM mengusung tagline Good News is The Best News (Berita Bagus Kabar Terbaik).

© 2025. All Rights Reserved by Kabar Sembada