Recent News

Dulu Diwarnai Konflik Ideologi, Kini Masjid Jogokariyan Menjadi Simbol Persatuan dan Pelayanan Umat

KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Siapa yang menyangka, kawasan yang dahulu dikenal memiliki dinamika politik dan ideologi yang kuat kini justru melahirkan salah satu masjid paling berpengaruh di Indonesia. Masjid Jogokariyan, yang berdiri di Jalan Jogokaryan No. 36, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, telah menjelma menjadi contoh nyata bagaimana rumah ibadah mampu mengubah wajah masyarakat melalui dakwah yang membumi dan pelayanan yang menyentuh kebutuhan umat.

Tidak hanya menjadi tempat salat, Masjid Jogokariyan kini dikenal sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pelayanan sosial, pendidikan, hingga penguatan ekonomi umat. Reputasinya bahkan melampaui batas daerah, menarik perhatian pengurus masjid, akademisi, hingga tamu dari berbagai negara yang ingin mempelajari sistem pengelolaannya.

Kampung Prajurit yang Menjadi Cikal Bakal Jogokariyan

Sejarah Jogokariyan berawal pada masa Kesultanan Yogyakarta. Nama kampung ini berasal dari kata “jogo” yang berarti menjaga dan “kari” yang merujuk pada prajurit. Dahulu wilayah tersebut menjadi tempat tinggal para prajurit Keraton Yogyakarta dari Kesatuan Mantrijeron yang bertugas mengamankan kawasan selatan keraton.

Sekitar tahun 1822, pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono IV, kawasan ini mulai dihuni keluarga prajurit setelah kawasan Benteng Baluwerti tidak lagi mampu menampung seluruh abdi dalem. Seiring perjalanan waktu, terutama pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII, jumlah prajurit dikurangi secara signifikan. Banyak di antara mereka beralih profesi dan menjual lahan pertanian kepada para pengusaha batik serta tenun yang kemudian menetap di Jogokariyan.

Perubahan itu membentuk karakter masyarakat yang semakin beragam dan menjadi bagian dari sejarah panjang kampung tersebut.

Pernah Tidak Memiliki Masjid

Di balik citranya saat ini, Jogokariyan pernah menjadi kawasan yang belum memiliki masjid sebagai pusat aktivitas keagamaan. Sebelum tahun 1967, warga hanya memanfaatkan sebuah langgar kecil berukuran sekitar 3 x 4 meter untuk beribadah.

Pada masa itu, kawasan Jogokariyan dikenal memiliki basis simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Letaknya berada di antara dua wilayah yang dikenal kuat dengan tradisi Islam, yakni kawasan Pesantren Krapyak di sebelah barat dan Karangkajen di sebelah timur.

Perubahan besar terjadi setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Di tengah situasi nasional yang penuh ketegangan, para tokoh masyarakat menggagas pembangunan sebuah masjid sebagai ruang ibadah sekaligus sarana mempererat kembali hubungan sosial masyarakat.

Berdiri dari Wakaf dan Semangat Gotong Royong

Masjid Jogokariyan mulai dibangun melalui peletakan batu pertama pada 20 September 1966.

Lahan seluas sekitar 600 hingga 700 meter persegi yang sebelumnya berupa rawa diwakafkan oleh sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya H. Jazuri, Zarkoni, H. Amin Said, Abdul Manan, KRT Widyodiningrat, Hadits Hadi Sutarno, dan Ibu Margono.

Pembangunannya dilakukan secara swadaya. Warga bergotong royong menyumbangkan tenaga, material, maupun dana hingga berdirilah bangunan sederhana berukuran 9 x 9 meter yang mampu menampung sekitar 150 jemaah.

Pada 20 Agustus 1967, bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Masjid Jogokariyan resmi dibuka untuk masyarakat. Nama “Jogokariyan” dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap kampung tempat masjid itu berdiri.

Transformasi Besar Dimulai Tahun 1999

Perjalanan Masjid Jogokariyan memasuki babak baru ketika Ustaz Muhammad Jazir dipercaya menjadi Ketua Takmir pada 1999.

Melalui gagasan “Memasyarakatkan Masjid dan Memasjidkan Masyarakat”, pengelolaan masjid diarahkan agar mampu menjawab kebutuhan warga, bukan hanya dalam urusan ibadah, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi.

Berbagai inovasi kemudian lahir. Sistem administrasi dan keuangan dikelola secara profesional dan transparan. Dana umat tidak sekadar disimpan, melainkan segera dikembalikan dalam bentuk berbagai program yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Komitmen tersebut membuat Masjid Jogokariyan berkembang pesat hingga kini memiliki kompleks seluas sekitar 1.478 meter persegi yang dilengkapi Islamic Center dan berbagai fasilitas penunjang.

Melayani Umat Tanpa Memandang Latar Belakang

Masjid Jogokariyan dikenal karena pelayanan sosialnya yang terus berjalan sepanjang tahun.

Program seperti ATM Beras, bantuan bagi masyarakat kurang mampu, penginapan gratis untuk musafir, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Saat bulan Ramadan tiba, masjid ini berubah menjadi pusat keramaian. Ribuan paket takjil dibagikan setiap sore kepada masyarakat tanpa membedakan status sosial maupun asal daerah. Tradisi tersebut telah menjadi ikon Ramadan di Yogyakarta.

Di bidang pendidikan, kawasan masjid juga berkembang melalui berdirinya SD Muhammadiyah Jogokariyan sejak 1968 dan berbagai kegiatan pendidikan Islam bagi seluruh lapisan masyarakat.

Menjadi Rumah Bagi Semua

Masjid Jogokariyan juga dikenal sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja.

Pendekatan dakwah yang mengedepankan pelayanan membuat masyarakat merasa diterima dan dihargai. Masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga ruang membangun kembali persaudaraan dan memperkuat hubungan sosial.

Tami, seorang jemaah asal Kediri, mengaku selalu merasakan suasana hangat setiap kali datang ke Masjid Jogokariyan.

“Masjid ini selalu hidup. Dari Subuh sampai malam selalu ada kegiatan. Banyak jemaah dari berbagai daerah bahkan luar negeri datang ke sini, tetapi suasananya tetap akrab seperti keluarga,” tutur, Sabtu (4/7/2026).

Sementara itu, Achmad S., relawan yang telah mengabdi hampir 20 tahun, mengatakan semangat melayani menjadi kekuatan utama seluruh pengurus.

“Kami bekerja bersama sebagai keluarga. Kebahagiaan terbesar adalah ketika melihat masyarakat terbantu dan merasa nyaman berada di masjid,” ujarnya.

Perjalanan Masjid Jogokariyan menjadi bukti bahwa masjid mampu menjadi motor perubahan sosial apabila dikelola dengan visi yang jelas dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

Dari sebuah kawasan yang pernah menghadapi tantangan sosial dan politik, kini Jogokariyan tumbuh menjadi ikon dakwah modern yang mengedepankan persaudaraan, transparansi, pemberdayaan, dan kesejahteraan umat.

Lebih dari sekadar bangunan ibadah, Masjid Jogokariyan telah menjadi simbol bahwa masjid dapat hadir sebagai pusat peradaban yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. (*)

Pewarta: Yahya Haqul Mubin

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Recent News

Portal informasi yang didedikasikan oleh sejumlah jurnalis, pegiat teknologi informasi, akademisi, dan pelaku bisnis. Sebagai portal informasi berita, KABARSEMBADA.COM mengusung tagline Good News is The Best News (Berita Bagus Kabar Terbaik).

© 2025. All Rights Reserved by Kabar Sembada