KABARSEMBADA.COM, SLEMAN – Realisasi penyerapan pupuk bersubsidi di Kabupaten Sleman hingga September 2025 masih belum maksimal. Dari total alokasi, baru sekitar 52 persen–54 persen yang terserap. Perubahan pola tanam menjadi salah satu penyebab utama lambatnya serapan pupuk di kalangan petani.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Siti Rochayah Dwi Mulyani, menjelaskan bahwa alokasi pupuk bersubsidi tahun ini terdiri dari Urea PSO sebanyak 8.765 ton dan NPK PSO sebanyak 6.581 ton. Namun hingga kini, Urea baru terserap sekitar 4.709 ton (54persen), sementara NPK hanya 3.440 ton (52persen).
“Wilayah dengan serapan tertinggi ada di Berbah dan Turi. Di Berbah, serapan Urea mencapai 71 persen dan NPK 85 persen, sedangkan di Turi Urea 75persen dan NPK 71persen,” ujar Siti Rochayah, Jumat (19/9/2025).
Sebaliknya, Kapanewon Moyudan menjadi daerah dengan serapan terendah, yakni hanya 26persen untuk Urea dan 33 persen untuk NPK. Berdasarkan catatan DP3 Sleman, serapan Urea paling tinggi terjadi pada Mei dengan 856 ton, sedangkan NPK terbanyak pada Juli dengan 633 ton.
Plt. Kepala DP3 Sleman, Rofiq Andriyanto, membenarkan serapan yang rendah dipengaruhi oleh jadwal tanam yang bergeser. “Sebagian kelompok tani belum menebus pupuk karena belum mulai tanam. Pemupukan baru akan maksimal pada Oktober hingga November 2025,” jelasnya.
Rofiq menambahkan, faktor lain yang menekan serapan adalah perubahan komoditas. Banyak petani kini beralih dari tanaman pangan seperti padi dan jagung ke hortikultura, terutama cabai, yang umumnya tidak menggunakan pupuk bersubsidi. Selain itu, sebagian petani masih memiliki stok pupuk dari Desember 2024 yang digunakan pada awal 2025.
“Kalau pupuk tidak diusulkan dalam eRDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok), data lahan baku sawah (LBS) bisa berkurang. Jadi meski tidak dipakai, pengusulan tetap dilakukan,” katanya.
Untuk mempercepat penyerapan, DP3 Sleman menggencarkan program tebus bersama melalui Koperasi Unit Desa (KUD) dan kios resmi pupuk. Salah satunya di Kapanewon Seyegan, di mana penebusan mencapai 35 ton hanya dalam tiga hari. (*)






















