Recent News

Kota Yogyakarta Jadi Pusat Bibit Pisang Nasional, Permintaan Tembus 15 Ribu Bibit per Tahun

KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra pengembangan bibit pisang unggul di Indonesia. Melalui Dinas Pertanian dan Pangan, produksi bibit pisang berbasis teknologi kultur jaringan menjadi prioritas utama untuk menjawab tingginya permintaan dari berbagai daerah yang terus meningkat setiap tahun.

Di tengah berkembangnya teknologi pertanian modern, bibit pisang hasil kultur jaringan dari Yogyakarta semakin diminati karena memiliki kualitas yang seragam, sehat, dan bebas dari hama maupun penyakit. Tak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta, bibit tersebut juga dikirim ke berbagai provinsi, mulai dari Jawa Timur, Lampung hingga Kalimantan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, mengatakan permintaan bibit pisang setiap tahun berada pada kisaran 11.000 hingga 15.000 bibit. Angka tersebut menjadikan pisang sebagai komoditas yang paling banyak diminati dibandingkan tanaman lain yang juga pernah dikembangkan melalui laboratorium kultur jaringan.

“Kami tetap memprioritaskan pengembangan pisang karena permintaannya masih paling tinggi. Terutama varietas Raja yang hingga kini tetap menjadi favorit masyarakat,” ujar Sukidi, Kamis (9/7/2026).

Menurut Sukidi, laboratorium milik Dinas Pertanian dan Pangan sebelumnya juga mengembangkan berbagai tanaman hias seperti anggrek, aglaonema, keladi hingga kantong semar. Namun, antusiasme masyarakat terhadap tanaman tersebut belum mampu menyaingi tingginya permintaan bibit pisang.

Simpan 333 Varietas Pisang dari Berbagai Daerah

Selain menjadi pusat produksi bibit unggul, Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta juga berperan sebagai lokasi konservasi berbagai jenis pisang Nusantara.

Di atas lahan seluas sekitar dua hektare, kebun tersebut menyimpan sekitar 333 kultivar pisang yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia maupun beberapa negara.

Beragam koleksi itu meliputi Pisang Raja, Ambon, Kepok, Tanduk, Cavendish, Klutuk, Sangga Buwana, Genderuwo, Mas Raja, Lase, Jarum, Potho hingga Morosebo.

Keberadaan ratusan varietas tersebut menjadi upaya nyata pemerintah dalam menjaga kelestarian plasma nutfah pisang agar tidak hilang seiring perubahan zaman.

Namun demikian, tidak seluruh koleksi diperbanyak secara massal. Produksi bibit lebih difokuskan pada varietas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan paling banyak dicari masyarakat.

Varietas seperti Raja Bagus, Raja Talun, Kepok Merah, Kepok Putih, Ambon Lumut, serta Ambon Amerika menjadi jenis yang paling sering diproduksi melalui teknologi kultur jaringan.

Metode kultur jaringan dipilih karena mampu menghasilkan bibit dalam jumlah besar dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan metode konvensional.

Melalui teknik tersebut, bagian kecil jaringan tanaman dikembangkan dalam media steril sehingga menghasilkan bibit yang memiliki sifat seragam, pertumbuhan lebih cepat, serta bebas dari penyakit.

Keunggulan inilah yang membuat bibit asal Yogyakarta semakin dipercaya oleh petani maupun pelaku usaha pertanian dari berbagai daerah.

Sukidi menyebutkan tren permintaan bibit terus mengalami kenaikan meski berlangsung secara bertahap.

“Permintaan dari Yogyakarta tetap ada, tetapi justru lebih banyak datang dari Jawa Timur. Selain itu Lampung dan Kalimantan juga rutin memesan bibit dari kami,” katanya.

Ia memastikan kapasitas laboratorium kultur jaringan yang dimiliki Pemerintah Kota Yogyakarta hingga saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Tak hanya melayani masyarakat umum, Dinas Pertanian dan Pangan juga menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian dalam penyediaan bibit pisang untuk berbagai wilayah di Indonesia.

Danais Percantik Kebun dan Perkuat Fasilitas Produksi

Seiring meningkatnya peran Kebun Plasma Nutfah Pisang, Pemerintah Kota Yogyakarta juga melakukan penataan kawasan agar semakin representatif.

Melalui Dana Keistimewaan (Danais) DIY, pemerintah membangun pos jaga dan sekretariat bagi para petugas yang bekerja di kawasan kebun.

Walaupun nilai anggaran mengalami penyesuaian dari Rp2,5 miliar menjadi sekitar Rp1 miliar, pembangunan tetap berjalan untuk mendukung fungsi kebun sebagai pusat konservasi, edukasi, sekaligus destinasi wisata pertanian.

Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk mempercantik kawasan dengan penambahan berbagai fasilitas pendukung dan spot foto yang menarik bagi pengunjung.

Di sisi lain, laboratorium kultur jaringan juga diperkuat melalui pengadaan alat autoclave yang berfungsi mensterilkan media tanam sehingga proses produksi bibit dapat berlangsung lebih optimal.

Dengan perpaduan antara konservasi, inovasi teknologi, dan pengembangan fasilitas, Pemerintah Kota Yogyakarta optimistis Kebun Plasma Nutfah Pisang akan terus menjadi salah satu pusat penghasil bibit pisang unggul sekaligus penjaga kekayaan varietas pisang Indonesia untuk generasi mendatang. (*)

Tags :

Zidniy Husnaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Recent News

Portal informasi yang didedikasikan oleh sejumlah jurnalis, pegiat teknologi informasi, akademisi, dan pelaku bisnis. Sebagai portal informasi berita, KABARSEMBADA.COM mengusung tagline Good News is The Best News (Berita Bagus Kabar Terbaik).

© 2025. All Rights Reserved by Kabar Sembada