Recent News

Batubara Belum Tergantikan! Di Tengah Transisi Energi dan Era AI, Industri Indonesia Masih Tangguh dan Prospektif

KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Di tengah gencarnya kampanye energi bersih dan target pengurangan emisi global, industri batubara Indonesia justru masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan, komoditas ini diprediksi tetap menjadi salah satu penopang utama energi dunia.

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Dies Natalis ke-22 Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTA) ITNY (Institut Teknologi Nasional Yogyakarta) yang digelar di Hotel Sahid Raya & Convention Yogyakarta, Senin (13/4/2026).

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA), Ir. Priyadi, menegaskan bahwa permintaan batubara global belum akan surut dalam waktu dekat.

“Dalam lima tahun ke depan, permintaan batubara masih akan tinggi. Ini karena batubara tetap menjadi sumber energi yang lebih ekonomis dibandingkan alternatif lainnya,” ujar Priyadi.

Batubara Masih Jadi Tulang Punggung Energi Nasional

Di dalam negeri, peran batubara masih sangat dominan. Selain sebagai pemasok utama energi, sektor ini juga menjadi penyumbang signifikan bagi pendapatan negara, bahkan dalam beberapa periode melampaui sektor minyak dan gas.

Dengan cadangan yang diperkirakan mencapai 26 hingga 35 miliar ton, Indonesia dinilai memiliki kemampuan menjaga ketahanan energi dalam jangka panjang. Meski pemerintah menargetkan net zero emission pada 2060, proses menuju energi bersih disebut tidak bisa dilakukan secara instan.

“Transisi energi membutuhkan waktu panjang, bisa sampai 30 tahun. Selama itu, batubara tetap akan digunakan,” jelas Priyadi.

Ketua Umum APBI-ICMA, Ir. Priyadi dalam Seminar Nasional Dies Natalis ke-22 HMTA ITNY di Yogyakarta. (Foto: Arya/Kabar Sembada)

Geopolitik Global Picu Lonjakan Permintaan

Kondisi geopolitik dunia juga menjadi faktor penting yang memperkuat posisi batubara. Konflik seperti Rusia–Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah berdampak pada naiknya harga energi global.

Dalam situasi tersebut, banyak negara kembali mengandalkan batubara sebagai alternatif energi yang lebih murah dan mudah diakses. Hal ini membuat permintaan global kembali meningkat, terutama dari negara industri seperti China.

Menghadapi persaingan global yang semakin ketat, industri batubara Indonesia dituntut untuk terus berinovasi. Transformasi di sektor logistik menjadi salah satu strategi utama, dari metode manual menuju sistem modern berbasis rel dan transportasi maritim.

“Inovasi logistik memang butuh investasi besar di awal, tetapi memberikan efisiensi jangka panjang dan meningkatkan daya saing,” ungkap Priyadi.

Efisiensi menjadi faktor krusial, terutama dalam menghadapi kompetisi dengan negara lain yang memiliki keunggulan teknologi dan kontrol pasokan domestik.

Ancaman dari Negara Pesaing

Indonesia juga dihadapkan pada tekanan dari negara-negara seperti China dan Jepang yang mampu mengelola pasokan energi secara lebih fleksibel. Saat harga global tinggi, negara tersebut dapat mengurangi impor dan mengandalkan produksi domestik.

“Kalau kita tidak efisien, kita bisa kalah bersaing,” tegasnya.

Untuk itu, diperlukan strategi ketahanan energi yang matang, seperti penyediaan cadangan energi (buffer stock), pengaturan keseimbangan pasokan dan permintaan, serta mitigasi risiko gangguan global.

Industri batubara kini juga mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui digitalisasi dan penerapan konsep green mining. Beberapa inovasi yang telah diterapkan antara lain command center digital, monitoring real-time, elektrifikasi alat tambang, hingga sistem informasi pertambangan terintegrasi.

Transformasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus keselamatan kerja. Namun, Priyadi mengingatkan agar penerapan teknologi tetap memperhatikan aspek tenaga kerja.

Peran SDM dan AI Tak Bisa Dipisahkan

Sementara itu, Rektor Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Dr. Ir. Setyo Pambudi, MT, menyoroti pentingnya peran manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, teknologi hanyalah alat, sementara manusia tetap menjadi penentu arah inovasi dan pengambilan keputusan.

“AI tidak bisa menggantikan nilai, etika, dan kreativitas manusia,” tegas Setyo.

Setyo menambahkan, kolaborasi antara manusia dan teknologi menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan industri masa depan, termasuk di sektor pertambangan.

Senada dengan itu, Ketua Umum Keluarga Alumni Teknologi Nasional (Kelatnas ITNY), Ir. Yunus, mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan diri dan siap bersaing di tingkat global.

Menurutnya, organisasi mahasiswa seperti HMTA memiliki peran penting dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang teknologi dan pertambangan.

Generasi Muda Dituntut Jadi Inovator

Yunus menekankan bahwa tantangan era digital tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kreativitas dan inovasi. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan solusi baru.

“Teruslah berkarya dan jadilah kebanggaan Indonesia di kancah internasional,” pesan Yunus.

Di tengah transisi energi dan tekanan global, batubara Indonesia masih memiliki prospek cerah. Namun, keberlanjutannya sangat bergantung pada kemampuan industri dalam beradaptasi melalui efisiensi, inovasi teknologi, serta penguatan kualitas sumber daya manusia di era digital dan AI. (*)

Tags :

Furqon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Popular News

Recent News

Portal informasi yang didedikasikan oleh sejumlah jurnalis, pegiat teknologi informasi, akademisi, dan pelaku bisnis. Sebagai portal informasi berita, KABARSEMBADA.COM mengusung tagline Good News is The Best News (Berita Bagus Kabar Terbaik).

© 2025. All Rights Reserved by Kabar Sembada