KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Keluhan soal bau tak sedap dan kebersihan Malioboro akhirnya dijawab tuntas. Ratusan orang dari berbagai elemen turun langsung menyapu bersih jantung wisata Kota Yogyakarta.
Kerja bakti massal ini melibatkan seluruh perangkat daerah Pemerintah Kota Yogyakarta, pelaku pariwisata, pemilik usaha di sepanjang Malioboro, hingga masyarakat umum. Mereka bahu-membahu membersihkan setiap sudut Malioboro—mulai dari area pedestrian, pot tanaman, hingga saluran air yang selama ini luput dari perhatian.
Tak sekadar bersih-bersih biasa, kegiatan ini sekaligus membongkar fakta di balik sumber bau yang kerap dikeluhkan wisatawan dan warga. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, menegaskan bahwa aroma tidak sedap di Malioboro bukan hanya disebabkan oleh kencing kuda.
“Setelah kami turun langsung, memang ditemukan endapan sampah lama di bawah grill saluran air yang menimbulkan bau. Jadi bukan semata-mata karena kencing kuda, tapi juga akumulasi sampah yang sudah lama,” ujar Dedi, Jumat (30/1/2026).
Dalam kerja bakti tersebut, peserta membersihkan puntung rokok yang menumpuk di sela-sela pedestrian, membersihkan tiang lampu, kursi taman, dan tempat sampah dari noda membandel, serta menghapus stiker liar dan vandalisme yang merusak wajah Malioboro. Saluran drainase ringan, terutama pada grill dan tree case, juga menjadi sasaran utama karena menjadi titik rawan bau.
Dedi mengakui, selama ini perawatan Malioboro dilakukan setiap hari oleh Dinas Kebudayaan melalui UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya. Namun, luasnya kawasan dan keterbatasan tenaga membuat pembersihan rutin belum mampu menjangkau titik-titik berat.
“Perawatan harian itu perlu, tapi tidak cukup. Kegiatan seperti ini harus dilakukan rutin. Minimal sebulan sekali, bahkan idealnya dua minggu sekali, supaya titik-titik sulit benar-benar bersih,” tegasnya.
Tak hanya soal kebersihan, kerja bakti juga menyasar aspek keamanan dan kenyamanan. Sejumlah pohon di sepanjang Malioboro dipangkas dan dirapikan agar tidak menghalangi cahaya lampu penerangan.
“Kalau terlalu rimbun, cahaya lampu tertutup dan malam hari jadi gelap. Sudut gelap itu rawan. Dengan pruning, Malioboro lebih terang, lebih rapi, dan tentu lebih aman,” jelas Dedi.
Ia menekankan bahwa kerja bakti ini juga menjadi pesan keras bagi semua pihak bahwa Malioboro bukan hanya milik pemerintah, tetapi ruang publik milik bersama.
“Kami mengajak semua, pengunjung, warga, pelaku usaha, untuk ikut menjaga. Jangan buang sampah sembarangan, jangan merokok di luar area yang ditentukan, dan jangan merusak fasilitas. Kalau merasa memiliki, pasti akan menjaga,” ujarnya.
Terkait persoalan bau yang terus berulang, Pemkot Yogyakarta juga menyiapkan langkah lanjutan. Pemerintah akan mengkaji solusi teknis jangka panjang, termasuk perbaikan konstruksi water torrent dan pemanfaatan teknologi penguraian bakteri.
“Kalau hanya dibersihkan, baunya bisa muncul lagi. Harus ada rekayasa teknis supaya masalah ini tuntas,” kata Dedi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyebut kerja bakti ini sebagai bentuk nyata semangat gotong royong dan handarbeni—rasa ikut memiliki Malioboro.
“Ini bukan sekadar kerja bakti, tapi upaya menghidupkan kembali semangat gotong royong. Malioboro ini kita rawat bersama, bukan hanya pemerintah,” ujarnya.
Menurut Yetti, Malioboro yang setiap hari dipadati wisatawan juga perlu “istirahat” sejenak dari hiruk pikuk aktivitas untuk dibersihkan secara menyeluruh.
“Seperti manusia, Malioboro juga perlu jeda. Dengan kerja bakti massal, kawasan ini bisa kembali nyaman dan layak dinikmati,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti masih minimnya pemahaman terhadap aturan kawasan Malioboro, baik oleh pengunjung maupun pelaku usaha. Mulai dari kawasan tanpa rokok, larangan membuang sampah sembarangan, hingga pembatasan aktivitas tertentu.
“Aturan ini harus terus disosialisasikan. Malioboro yang tertib dan bersih akan memberi pengalaman yang jauh lebih baik bagi wisatawan,” tegas Yetti.
Upaya masif ini pun menuai apresiasi dari pengunjung. Katty Prastiwi, warga Magelang, mengaku Malioboro terasa lebih bersih dan tertata.
“Bagus sekali. Lebih bersih, lebih rapi, kelihatan beda,” ujarnya.
Katty mengatakan, dirinya datang ke Malioboro hanya untuk mengisi waktu sambil menunggu anaknya menjalani pemeriksaan kesehatan di Kota Yogyakarta.
“Saya ke sini bukan khusus liburan, tapi Malioboro memang selalu punya daya tarik sendiri. Selalu bikin pengin mampir,” katanya.
Melalui kerja bakti serentak ini, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap Malioboro tak hanya kembali bersih dan bebas bau, tetapi juga menjadi simbol kesadaran bersama bahwa ikon wisata ini harus dijaga secara berkelanjutan.
Malioboro bersih bukan cuma urusan pemerintah—tapi tanggung jawab semua yang menikmatinya. (*)























