KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Perdarahan yang tak kunjung berhenti setelah luka ringan atau tindakan medis sederhana bisa menjadi tanda serius yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ini merupakan salah satu gejala hemofilia, penyakit kelainan pembekuan darah yang masih kerap terlambat terdeteksi di Indonesia.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, dr. Bambang Ardianto, menjelaskan bahwa hemofilia merupakan penyakit genetik yang diwariskan dalam keluarga dan telah lama dikenal di dunia medis.
Menurutnya, di Indonesia, banyak kasus baru teridentifikasi setelah pasien mengalami perdarahan hebat yang sulit dihentikan, terutama pada anak-anak.
“Biasanya baru diketahui setelah terjadi perdarahan yang tidak berhenti, misalnya setelah sunat atau cedera ringan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Hemofilia Sedunia.
Selain perdarahan, gejala lain yang sering muncul adalah nyeri dan pembengkakan pada sendi, terutama di area lutut dan pergelangan kaki. Gejala ini bahkan dapat terjadi setelah aktivitas ringan dan sering kali tidak disadari sebagai tanda penyakit serius.
“Padahal itu merupakan gejala khas hemofilia yang perlu segera ditangani,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa tindakan medis di luar fasilitas kesehatan formal berisiko memicu komplikasi, karena tidak disertai pemeriksaan fungsi pembekuan darah sejak awal.
Dari sisi layanan, akses pengobatan hemofilia di Indonesia dinilai masih belum merata. Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas dan tenaga ahli yang memadai, sehingga pasien sering kali harus dirujuk ke rumah sakit dengan layanan hematologi.
Meski layanan pengobatan sudah tercakup dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), tantangan lain muncul pada keterbatasan terapi profilaksis, yaitu terapi pencegahan yang diberikan secara rutin untuk menghindari perdarahan berulang.
“Terapi pencegahan ini sangat penting, tetapi belum bisa diterapkan secara luas,” jelasnya.
Akibatnya, sebagian besar pasien masih mengandalkan pengobatan saat terjadi perdarahan, bukan pencegahan jangka panjang.
Peran keluarga juga menjadi faktor penting dalam penanganan hemofilia. Orang tua diharapkan mampu mengenali tanda awal, seperti nyeri atau bengkak pada sendi, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Selain itu, pembatasan aktivitas fisik yang berisiko tinggi juga perlu dilakukan guna menghindari cedera.
Tak hanya berdampak pada fisik, hemofilia juga memengaruhi kondisi psikologis dan sosial pasien, terutama anak-anak yang harus membatasi aktivitas mereka dibandingkan teman sebaya.
Untuk itu, edukasi dan dukungan komunitas menjadi bagian penting dalam penanganan jangka panjang. Kegiatan pertemuan pasien dan keluarga secara rutin dilakukan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus memberikan dukungan emosional.
Peringatan Hari Hemofilia Sedunia menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini, akses pengobatan yang merata, serta dukungan berkelanjutan bagi pasien agar kualitas hidup mereka dapat terus ditingkatkan. (*)




















