KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Upaya Kota Yogyakarta dalam menghadirkan transportasi publik yang lebih bersih dan berkelanjutan memasuki babak baru. Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah meresmikan Charging Station dan dua unit tambahan Becak Tenaga Listrik (Betrik 1912) di Grha Suara Muhammadiyah Tower, Rabu (9/12/2025).
Langkah ini mengukuhkan Yogyakarta sebagai daerah yang serius mengembangkan moda transportasi ramah lingkungan sekaligus memperkuat identitas kotanya sebagai pusat budaya dan wisata.
Program becak listrik merupakan hasil kolaborasi intensif antara MPM Muhammadiyah dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dua unit baru yang diperkenalkan hari itu menambah jumlah Betrik di bawah Paguyuban Becak Ahmad Dahlan (Pabelan) menjadi tujuh unit.
Selain peluncuran unit baru, acara juga disemarakkan dengan lelang donasi sebagai dukungan pengembangan transportasi ramah lingkungan.
Acara peresmian dipimpin oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono, bersama Ketua MPM Muhammadiyah, Muhammad Nurul Yasmin.
Pemkot Apresiasi: Solusi Transportasi yang Bersih, Efektif, dan Mudah Diakses
Yunianto menyampaikan dukungan penuh terhadap inovasi becak listrik ini. Menurutnya, hadirnya charging station akan semakin memudahkan para pengemudi becak memperoleh pasokan listrik secara murah dan cepat.
“Transportasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan moda yang praktis dan ramah lingkungan. Bentuknya ramping, cocok untuk jalan-jalan sempit khas kota Yogyakarta,” ujarnya.
Dirinya juga menegaskan bahwa penggunaan energi listrik akan membantu menurunkan polusi dan mengurangi ketergantungan kota pada bahan bakar fosil.
Performa Betrik 1912: Hemat Energi, Jarak Tempuh Panjang, dan Pengisian Lebih Cepat
Betrik 1912 telah melalui uji coba, dan hasilnya memuaskan. Becak listrik ini mampu menempuh jarak hingga 50 kilometer dalam satu kali pengisian daya, tetap stabil saat digunakan, dan nyaman bagi penumpang.
Kecepatan pengisian daya juga membuatnya unggul. Dengan fasilitas charging station baru, baterai bisa mencapai 85 persen hanya dalam waktu sekitar satu jam.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif transportasi publik yang mampu membantu mengurangi kemacetan, sekaligus memberi pengalaman baru bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kota.
Ketua MPM Muhammadiyah, Muhammad Nurul Yasmin, menegaskan bahwa program ini tidak hanya soal transportasi, tetapi juga bagian dari misi pemberdayaan ekonomi dan pelestarian budaya khas Yogyakarta.
“Becak bukan sekadar kendaraan. Di dalamnya ada unsur teknologi, budaya, ekonomi, hingga penguatan kelembagaan. Semua itu saling terhubung, dan kami ingin membangunnya sebagai satu ekosistem,” terangnya.
Betrik diharapkan dapat menjadi jembatan antara tradisi becak Yogyakarta dengan teknologi ramah lingkungan yang modern.
Ada Tarif Resmi dan Rute Wisata: Betrik Dirancang Nyaman untuk Pelancong
Pemkot memastikan bahwa Betrik memiliki tarif resmi sebagai standar layanan bagi para penumpang. Rute yang dilayani pun merupakan daerah populer wisatawan, seperti Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Alun-Alun Kidul, dan Gudeg Wijilan.
Unit Betrik beroperasi dari Hotel SM Tower sebagai titik kumpul. Beberapa di antaranya dilengkapi fitur hiburan seperti musik tradisional, memberikan pengalaman unik yang tidak ditemukan pada moda transportasi lain.
Pemkot juga membuka peluang untuk memperluas penggunaan Becak Listrik di titik-titik strategis lain, terutama kawasan Malioboro.
Dampaknya Sudah Terasa: Pendapatan Pengemudi Meningkat
Ketua Paguyuban Becak Ahmad Dahlan, Edi Rahayu, mengungkapkan rasa syukurnya atas pendampingan yang diberikan oleh MPM Muhammadiyah, UAD, dan Pemkot.
“Kami sangat terbantu. Pelatihan yang diberikan memudahkan kami mengoperasikan becak listrik. Pendapatan juga lebih stabil, karena sekarang lebih banyak wisatawan yang ingin mencoba Betrik,” katanya.
Menurutnya, inovasi ini membuka peluang baru bagi para pengemudi becak untuk kembali produktif di tengah persaingan transportasi modern.
Dengan kehadiran Betrik 1912 dan fasilitas charging station, Yogyakarta mengirim pesan jelas bahwa kota ini tidak ingin hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga memadukannya dengan inovasi yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
Transportasi ramah lingkungan ini diharapkan menjadi contoh yang dapat direplikasi di berbagai wilayah kota, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. (*)























