KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan kesiapan maksimal bagi ratusan calon jemaah haji (CJH) tahun 2026, khususnya dari sisi kesehatan. Melalui Dinas Kesehatan, berbagai langkah strategis dilakukan demi menjamin para jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan lancar hingga kembali ke tanah air.
Sejak November 2025, proses pemeriksaan kesehatan CJH telah dilakukan secara bertahap. Mulai dari skrining kondisi tubuh, pengukuran kebugaran, hingga pemenuhan dokumen kesehatan sebagai syarat wajib keberangkatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, mengungkapkan bahwa sebagian besar jemaah telah memenuhi kriteria istithaah kesehatan, yakni kemampuan fisik dan mental untuk melaksanakan ibadah haji.
“Mayoritas jemaah masuk kategori istithaah kesehatan dengan pendampingan obat. Artinya mereka layak berangkat dengan catatan tetap menjaga kondisi dan mengikuti anjuran medis,” jelas Emma, Kamis (16/4/2026).
Menjelang keberangkatan yang dimulai April 2026, para CJH diimbau untuk menjaga kesehatan secara konsisten. Istirahat cukup, pola makan bergizi, serta aktivitas fisik ringan menjadi kunci utama menjaga kebugaran.
Selain itu, jemaah juga diingatkan untuk tetap disiplin dalam mengonsumsi obat bagi yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Upaya pencegahan seperti menggunakan masker di keramaian, melindungi diri dari panas dengan topi atau payung, serta memperbanyak minum air juga menjadi perhatian penting.
Tenaga Medis Ikut Mengawal Hingga Arab Saudi
Tak hanya di dalam negeri, Pemkot Yogyakarta juga menyiapkan tenaga kesehatan yang akan mendampingi jemaah langsung di Tanah Suci. Sebanyak tiga tenaga medis diterjunkan sebagai bagian dari Tim Kesehatan Haji Daerah (TKHD) dan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).
Mereka terdiri dari satu dokter dan dua perawat yang siap memberikan pelayanan kesehatan selama proses ibadah berlangsung.
Untuk mengantisipasi potensi penularan penyakit di tengah jutaan jemaah dunia, seluruh CJH diwajibkan menjalani vaksinasi meningitis sebelum keberangkatan.
Langkah ini terbukti efektif, mengingat hingga saat ini belum ada jemaah asal Kota Yogyakarta yang terpapar meningitis sepulang dari ibadah haji.
Perhatian terhadap kesehatan jemaah tidak berhenti setelah ibadah selesai. Selama dua hingga tiga minggu pasca kepulangan, petugas kesehatan dari puskesmas akan melakukan pemantauan intensif.
Jika ditemukan gejala seperti batuk, demam, atau sesak napas, jemaah diminta segera melapor agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat.
494 Jemaah Siap Berangkat, Didominasi Lansia
Sebanyak 494 calon jemaah haji asal Kota Yogyakarta akan diberangkatkan dalam empat kloter. Dari jumlah tersebut, 189 di antaranya merupakan jemaah lanjut usia.
Jemaah tertua tercatat berusia 85 tahun, sementara yang termuda berusia 16 tahun. Meski didominasi lansia, kesiapan kesehatan tetap menjadi prioritas utama.
Dengan persiapan yang matang dan dukungan tenaga medis hingga ke Arab Saudi, Pemerintah Kota Yogyakarta optimistis seluruh jemaah dapat menunaikan ibadah haji dengan lancar dan kembali dalam kondisi sehat. (*)























