KABARSEMBADA.COM, YOGYAKARTA – Pengembangan pariwisata berbasis wilayah kini menjadi arah baru strategi wisata di Kota Yogyakarta. Hal ini mengemuka dalam forum Diskusi dan Halal Bihalal Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama pengelola kampung wisata yang digelar di Fairy Kale Vegetarian, Jumat (10/4/2026).
Forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi sekaligus merumuskan langkah konkret dalam mengembangkan pariwisata yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggono, menegaskan bahwa keterbatasan ruang di Kota Yogyakarta justru harus dilihat sebagai peluang baru dalam pengembangan sektor pariwisata.
Menurutnya, investasi pariwisata tidak lagi harus berfokus pada proyek-proyek besar, melainkan dapat diarahkan ke kampung wisata dan Pokdarwis agar dampaknya lebih merata.
“Ini saatnya kita menggeser fokus. Kampung wisata harus menjadi pusat pertumbuhan baru, sehingga manfaat ekonomi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Tren Wisata Bergeser ke Pengalaman
Kadri menjelaskan, tren pariwisata saat ini telah berubah signifikan. Wisatawan kini tidak hanya mencari destinasi untuk dilihat, tetapi juga pengalaman yang menyeluruh.
Konsep “what to see, what to buy, what to eat, dan what to do” menjadi kunci utama dalam menarik minat wisatawan. Oleh karena itu, setiap kampung wisata diharapkan mampu mengemas potensi lokal menjadi daya tarik yang unik dan bernilai jual tinggi.
Ia juga mendorong sinergi lintas sektor, termasuk dengan asosiasi pariwisata seperti ASITA dan PHRI, guna membuka peluang paket wisata berbasis kampung.
“Ekosistem pariwisata hanya bisa tumbuh jika ada jejaring yang kuat. Kolaborasi adalah kunci,” tegasnya.
46 Kampung Wisata Siap Naik Kelas
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 46 kampung wisata yang berada dalam pembinaan Pokdarwis.
Pemerintah tengah mendorong proses revitalisasi, branding, hingga packaging produk wisata agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami ingin kampung wisata ini naik kelas, mulai dari rintisan, berkembang, maju, hingga mandiri. Saat ini baru satu yang sudah mandiri, dan ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” jelasnya.
Menurut Daning, peluang pasar sebenarnya cukup besar, terutama dari kunjungan kerja yang mencapai 800 hingga 900 tamu setiap tahunnya. Potensi ini dinilai dapat dioptimalkan dengan paket wisata yang terintegrasi dan profesional.
CFD Jadi Etalase Potensi Kampung
Dari sisi pelaku, perwakilan Pokdarwis Klitren, Didi Aris Hermanto, memaparkan inovasi yang dilakukan untuk menghidupkan potensi kampung, salah satunya melalui kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman.
Program ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari senam bersama, pertunjukan seni, hingga kolaborasi dengan musisi lokal yang digelar rutin setiap Minggu pagi.
“CFD menjadi panggung bagi warga untuk menunjukkan potensi kampung, baik seni tari, musik, maupun aktivitas kreatif lainnya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut sempat jeda selama Ramadan dan Idulfitri, namun akan kembali digelar mulai 12 April mendatang.
Pariwisata Tak Lagi Terpusat
Melalui berbagai upaya ini, Pemerintah Kota Yogyakarta berharap pengembangan pariwisata tidak lagi terpusat pada destinasi konvensional, melainkan menyebar hingga ke kampung-kampung.
Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Dengan strategi berbasis wilayah, kolaborasi lintas sektor, serta penguatan identitas lokal, kampung wisata di Yogyakarta diyakini mampu menjadi motor baru pertumbuhan pariwisata yang lebih merata dan berkelanjutan. (*)























